Tatanan Memilah Kawruh Sejati merupakan tahap ketiga dalam perjalanan memahami dan mengembangkan kawruh. Setelah manusia belajar menerima pengetahuan dengan cipta yang terbuka dan mengupayakannya dengan sungguh-sungguh, tahap berikutnya adalah memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah pengetahuan yang diterima.
Tidak semua pengetahuan yang beredar di masyarakat memiliki dasar yang kuat atau sesuai dengan kenyataan. Ada kawruh atau pengetahuan yang memberikan pemahaman dan memperbaiki kehidupan, tetapi ada pula yang justru dapat menimbulkan kesalahpahaman, kesombongan, pertentangan, atau perilaku yang merusak.
Karena itu, menerima dan mencari pengetahuan perlu disertai kemampuan untuk memilah. Memilah kawruh bukan berarti menolak sesuatu secara terburu-buru, melainkan memberikan kesempatan kepada cipta untuk memahami, rasa untuk merasakan akibatnya, dan budi untuk menilai dengan jernih.
Makna Tatanan Memilah Kawruh.
Memilah kawruh berarti menentukan mana pengetahuan yang layak dijadikan dasar pemahaman dan mana yang masih perlu dipertanyakan, diperiksa, atau ditinjau kembali.
Kemampuan memilah sangat penting karena manusia hidup di tengah berbagai macam informasi dan pandangan. Setiap hari seseorang dapat menerima berbagai pendapat melalui percakapan, buku, media, lingkungan sosial, maupun pengalaman pribadi.
Banyaknya informasi tidak selalu berarti semakin banyak kebenaran yang diperoleh. Informasi yang berulang kali disampaikan pun belum tentu benar hanya karena sering didengar.
Demikian pula suatu pandangan tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan dengan kata-kata yang indah atau dipercayai oleh banyak orang.
Karena itu, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk melihat isi pengetahuan secara lebih mendalam.
Memilah Bukan Berarti Menolak.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa memilah berarti menolak. Padahal, memilah justru membutuhkan keterbukaan.
Ketika menerima suatu pengetahuan, seseorang tidak perlu langsung mempercayainya, tetapi juga tidak perlu langsung menolaknya. Berikan kesempatan kepada cipta untuk memahami terlebih dahulu.
Tanyakan apa yang dimaksud, apa dasar pemikirannya, bagaimana penerapannya, dan apa akibat yang mungkin muncul jika pengetahuan tersebut dijadikan pedoman.
Dengan cara demikian, seseorang tidak mudah terbawa oleh informasi, tetapi juga tidak menjadi tertutup terhadap sesuatu yang baru.
Memilah merupakan proses menimbang sebelum menentukan sikap.
Cipta sebagai Sarana untuk Memahami.
Dalam Tatanan Memilah Kawruh, cipta memiliki peran penting. Cipta digunakan untuk memahami isi pengetahuan secara jernih dan melihat persoalan dari berbagai sisi.
Cipta tidak seharusnya langsung dikuasai oleh prasangka. Apabila seseorang telah memiliki penolakan sejak awal, ia mungkin tidak mampu memahami apa yang sebenarnya sedang dipelajari.
Karena itu, cipta perlu diberi ruang untuk mengamati dan mempertimbangkan. Melalui cipta yang terbuka, seseorang dapat membedakan antara fakta dan pendapat, antara pengalaman dan kesimpulan, serta antara pemahaman yang telah teruji dan pernyataan yang masih membutuhkan pembuktian.
Semakin jernih cipta bekerja, semakin baik pula kemampuan seseorang dalam memilah pengetahuan.
Rasa dalam Menimbang Buah Pengetahuan.
Selain cipta, rasa juga memiliki peran dalam memilah kawruh. Rasa membantu seseorang melihat bagaimana suatu pengetahuan memengaruhi kehidupan manusia.
Suatu pengetahuan dapat tampak baik secara teori, tetapi perlu dilihat pula bagaimana dampaknya ketika diterapkan.
Apakah pengetahuan tersebut membuat seseorang semakin menghargai sesama?
Apakah membuat rasa menjadi lebih tulus?
Apakah menumbuhkan kepedulian dan ketenteraman?
Ataukah justru menimbulkan kebencian, kesombongan, dan pertentangan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu manusia untuk dapat melihat buah dari pengetahuan.
Dengan demikian, rasa bukan digunakan untuk menggantikan pertimbangan cipta, melainkan menjadi bagian dari proses menilai akibat nyata dari suatu pemahaman.
Budi sebagai Dasar Penilaian.
Budi membantu manusia membedakan antara sesuatu yang membawa kebaikan dan sesuatu yang dapat membawa kerusakan.
Pengetahuan yang benar-benar bermanfaat seharusnya tidak hanya membuat seseorang semakin pandai berbicara, tetapi juga membantu membentuk perilaku yang lebih baik.
Jika suatu pengetahuan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, mudah merendahkan sesama, gemar mempertentangkan kelompok, atau membenarkan tindakan yang merusak, maka pengetahuan tersebut perlu dipertimbangkan kembali.
Sebaliknya, apabila pengetahuan membuat cipta semakin jernih, rasa semakin tulus, karsa semakin luhur, dan laku semakin baik, maka pengetahuan tersebut menunjukkan buah yang baik dalam kehidupan.
Di sinilah budi memiliki peran penting dalam proses memilah.
Jangan Menilai dari Keindahan Kata.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilah kawruh adalah kecenderungan manusia untuk mudah terpengaruh oleh kata-kata yang indah.
Bahasa yang indah dapat membuat suatu pemikiran terdengar sangat meyakinkan. Namun, keindahan bahasa tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran kebenaran.
Demikian pula banyaknya orang yang mempercayai suatu pengetahuan tidak otomatis membuktikan bahwa pengetahuan tersebut adalah benar sesuai kenyataan.
Jumlah pengikut bukan ukuran mutlak kebenaran. Popularitas bukan ukuran kedalaman pengetahuan.
Yang lebih penting adalah isi pengetahuan, dasar pemikirannya, kesesuaiannya dengan kenyataan, serta buah yang muncul ketika pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan.
Melihat Buah Kawruh dalam Kehidupan.
Salah satu ukuran penting dalam memilah Kawruh Sejati adalah melihat buahnya.
Pengetahuan yang baik seharusnya membawa manusia menuju kehidupan yang lebih tertata. Cipta menjadi lebih jernih, rasa lebih tulus, karsa lebih terarah, dan laku semakin baik.
Sebaliknya, pengetahuan yang terus-menerus melahirkan kesombongan, kebencian, permusuhan, pertentangan, dan kerusakan perlu ditinjau kembali.
Hal ini bukan berarti setiap kesulitan yang muncul otomatis menunjukkan bahwa suatu pengetahuan salah. Dalam kehidupan, proses belajar dan perubahan dapat menghadirkan tantangan.
Namun, pola akibat yang terus-menerus merusak perlu menjadi bahan pertimbangan.
Karena itu, pengetahuan tidak cukup dinilai dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang dilakukan dan apa yang dihasilkan.
Memilah dengan Kesadaran Diri.
Kemampuan memilah juga membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri.
Kadang-kadang seseorang menerima suatu pengetahuan bukan karena pengetahuan tersebut benar, tetapi karena sesuai dengan keinginannya. Ada pula orang yang menolak suatu pengetahuan bukan karena salah, melainkan karena bertentangan dengan kepentingan atau kebiasaan yang telah dimiliki.
Keadaan seperti ini membuat proses memilah menjadi tidak jernih. Karena itu, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya menerima pengetahuan ini karena benar-benar memahami, atau karena saya menyukainya? Apakah saya menolaknya karena memiliki alasan yang kuat, atau karena saya tidak ingin pemahaman saya berubah?
Pertanyaan tersebut membantu manusia mengenali pengaruh kepentingan pribadi dalam proses menilai.
Memilah Kawruh dalam Kehidupan Sehari-hari.
Tatanan Memilah Kawruh dapat diterapkan dalam berbagai keadaan.
Ketika menerima berita, jangan langsung menyebarkannya sebelum memahami kebenarannya.
Ketika mendengar pendapat seseorang, pahami maksudnya sebelum memberikan penilaian.
Ketika menerima nasihat, lihat apakah nasihat tersebut dapat memperbaiki kehidupan.
Ketika mempelajari suatu ajaran, perhatikan bagaimana pemahaman tersebut membentuk sikap dan perilaku.
Kebiasaan sederhana tersebut membuat manusia tidak mudah terbawa arus informasi.
Memilah kawruh juga mengajarkan seseorang untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayai dan diterapkan.
Hubungan dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Tatanan Memilah Kawruh Sejati memiliki hubungan erat dengan cipta, rasa, dan karsa.
Cipta digunakan untuk memahami dan mempertimbangkan. Rasa digunakan untuk melihat nilai serta akibatnya. Budi digunakan untuk menilai arah kebaikannya. Setelah itu, karsa menentukan apakah pengetahuan tersebut akan diwujudkan dalam tindakan.
Jika suatu pengetahuan telah dipahami tetapi menghasilkan tindakan yang buruk, maka proses memilah belum selesai.
Kawruh yang baik seharusnya membantu manusia menata seluruh unsur tersebut agar berjalan selaras.
Dengan demikian, memilah kawruh bukan sekadar kegiatan berpikir, tetapi bagian dari proses pembentukan kehidupan.
Penutup.
Tatanan Memilah Kawruh Sejati mengajarkan bahwa tidak semua pengetahuan harus diterima begitu saja. Setelah menerima dan mengupayakan kawruh, manusia perlu memiliki kemampuan untuk menimbang, memeriksa, dan melihat buah dari pengetahuan tersebut.
Memilah bukan berarti menutup diri. Sebaliknya, memilah membutuhkan cipta yang terbuka, rasa yang peka, dan budi yang jernih.
Keindahan kata, banyaknya orang yang mempercayai, atau tingginya kedudukan seseorang bukanlah ukuran tunggal dari kebenaran pengetahuan. Yang lebih penting adalah kesesuaiannya dengan kenyataan dan buah yang muncul dalam kehidupan.
Jika suatu pengetahuan membuat cipta semakin jernih, rasa semakin tulus, karsa semakin luhur, dan laku semakin baik, maka pengetahuan tersebut memiliki nilai yang baik bagi kehidupan.
Sebaliknya, apabila pengetahuan justru memperbesar kesombongan, kebencian, pertentangan, dan kerusakan, maka pengetahuan tersebut perlu ditimbang kembali.
Dengan demikian, Tatanan Memilah Kawruh Sejati merupakan latihan untuk menggunakan pengetahuan secara bijaksana, sehingga kawruh tidak hanya menambah apa yang diketahui, tetapi juga membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik.
✦ Buka Quote
Yang lebih penting adalah isi pengetahuan, dasar pemikirannya, kesesuaiannya dengan kenyataan, serta buah yang muncul ketika pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan.
— Kawruh Utama —
FAQ - Tatanan Memilah Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud Tatanan Memilah Kawruh Sejati?
Tatanan Memilah Kawruh Sejati adalah kemampuan untuk memilih, mempertimbangkan, dan menilai pengetahuan dengan jernih sebelum menjadikannya dasar pemahaman dan tindakan.
2. Apakah memilah kawruh berarti menolak pengetahuan?
Tidak. Memilah berarti memahami dan menimbang terlebih dahulu. Setiap kawruh atau pengetahuan tidak langsung diterima, tetapi juga tidak langsung ditolak.
3. Apa ukuran pengetahuan yang baik?
Salah satu ukurannya adalah buah kehidupan yang dihasilkan. Pengetahuan yang baik dapat membantu menjernihkan cipta, menuluhkan rasa, meluhurkan karsa, dan memperbaiki laku.
4. Apakah pengetahuan yang dipercayai banyak orang pasti benar?
Tidak. Banyaknya orang yang mempercayai suatu pengetahuan bukan ukuran mutlak kebenarannya. Isi, dasar, kesesuaian dengan kenyataan, dan akibatnya tetap perlu dipertimbangkan.
5. Mengapa keindahan kata bukan ukuran kebenaran?
Karena kata-kata yang indah dapat membuat suatu gagasan terdengar meyakinkan tanpa menjamin bahwa isinya benar atau bermanfaat.
6. Apa peran cipta dalam memilah kawruh?
Cipta digunakan untuk mengamati, memahami, membandingkan, dan mempertimbangkan pengetahuan secara jernih sebelum menentukan pandangan.
7. Apa peran rasa dalam memilah kawruh?
Rasa membantu manusia melihat nilai dan akibat suatu pengetahuan terhadap kehidupan, terutama apakah pengetahuan tersebut mendorong ketulusan, kepedulian, dan kebaikan.
8. Mengapa budi diperlukan dalam memilah kawruh?
Budi membantu menilai arah pengetahuan dan membedakan apakah penerapannya membawa kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan.
9. Bagaimana cara menerapkan Tatanan Memilah Kawruh?
Biasakan memahami sebelum menilai, memeriksa sebelum mempercayai, mempertimbangkan akibat sebelum menerapkan, dan melihat buah pengetahuan dalam kehidupan nyata.
**Sumber Tulisan :
"NAWA TATANANING KAWRUH UTTAMOPADESA"
✦ Artikel-artikel yang Berkaitan
Berikut beberapa artikel yang berkaitan dan dapat dibaca untuk memperluas pemahaman.

Komentar
Posting Komentar