Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa merupakan sembilan tatanan yang menggambarkan bagaimana pengetahuan diterima, dicari, dipilah, dirasakan, diuji, dijalankan, dimuliakan, dibagikan, hingga akhirnya tumbuh menjadi kebijaksanaan.
Kesembilan tatanan ini tidak menempatkan pengetahuan sebagai sekadar kumpulan informasi, melainkan sebagai sesuatu yang harus mampu mengajarkan perubahan nyata dalam kehidupan.
Dalam kerangka Uttamopadesa, pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan cipta, rasa, dan karsa. Pengetahuan yang baik bukan hanya membuat seseorang semakin banyak mengetahui, tetapi juga membantu menjernihkan cipta, membeningkan rasa, meluhurkan karsa, dan memperbaiki laku.
Karena itu, ukuran dalamnya pengetahuan seseorang, tidak berhenti pada seberapa banyak yang diketahui, tetapi juga terlihat dari bagaimana pengetahuan tersebut dijalankan.
Sembilan tatanan (nawa tatanan) ini membentuk suatu alur yang saling berkaitan. Seseorang perlu membuka diri untuk menerima pengetahuan, kemudian tekun mengupayakannya. Setelah itu, pengetahuan perlu dipilah dan dirasakan maknanya, lalu diuji melalui nalar, rasa, serta buah perbuatan.
Pengetahuan yang telah teruji kemudian dijalankan dalam kehidupan, digunakan untuk kebaikan, dibagikan kepada sesama, dan pada akhirnya berkembang menjadi kebijaksanaan.
Berikut ini adalah uraian rinci tentang sembilan tatanan tersebut.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Nampani Kawruh*
“Cipta kang andhap asor dadi lawang tumrap pepadhang; saya mbukak, saya akeh piwulang kang bisa tinampa.”
— Kawruh Utama —
1. Tatanan Menerima Kawruh.
Tahap pertama adalah Tatanan Menerima Kawruh (Nampani Kawruh), yaitu menerima pengetahuan dengan membuka cipta dan menumbuhkan kerendahan hati.
Pengetahuan sulit berkembang dalam cipta yang tertutup oleh kesombongan dan perasaan paling mengetahui. Karena itu, menerima pengetahuan berarti bersedia mendengarkan, memperhatikan, dan mempertimbangkan berbagai pandangan tanpa terburu-buru menolaknya.
Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri. Sebaliknya, kerendahan hati merupakan kesadaran bahwa pengetahuan tidak memiliki batas akhir. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin terbuka kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum dipahami.
Dalam kehidupan nyata, pengetahuan dapat datang dari banyak arah. Alam, pekerjaan, hubungan dengan sesama, kebahagiaan, kesulitan, maupun berbagai peristiwa sehari-hari dapat menjadi sumber pembelajaran apabila cipta selalu terbuka.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Ngudi Kawruh*
“Kawruh ora bakal nemu wates, mula ngudinen kanthi temen, lakonana kanthi taberi, lan aja kendhat sinau.”
— Kawruh Utama —
2. Tatanan Mengupayakan Kawruh.
Setelah mampu menerima, seseorang perlu memasuki Tatanan Ngudi Kawruh, yaitu mengupayakan pengetahuan dengan sungguh-sungguh dan tekun.
Pengetahuan tidak tumbuh hanya karena sekali membaca atau sekali mendengar. Pengetahuan berkembang melalui proses belajar yang terus-menerus sifatnya. Karena itu, kesungguhan dan ketekunan menjadi bagian penting dalam perjalanan mencari pengetahuan atau kawruh ini.
Mengupayakan pengetahuan juga berarti tidak mudah puas dengan pemahaman yang masih berada di permukaan. Seseorang masih perlu berusaha memahami makna yang lebih dalam, mengamati kenyataan, mempertimbangkan berbagai hal, dan tidak mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang mengatakannya.
Tujuan mencari pengetahuan bukan untuk terlihat lebih pandai daripada orang lain. Pengetahuan seharusnya dicari karena dorongan untuk memahami kenyataan dan memperbaiki kehidupan.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Milah Kawruh*
“Aja mung ngrungokake tembunging kawruh, nanging delengen wohing lampah; saka woh iku kasunyatan bisa kabukten.”
— Kawruh Utama —
3. Tatanan Memilah Kawruh.
Tidak semua pengetahuan yang beredar di masyarakat selalu sesuai dengan kenyataan. Karena itu, diperlukan Tatanan Milah Kawruh, yaitu kemampuan memilih dan memilah pengetahuan dengan jernih.
Memilah bukan berarti menolak sesuatu secara terburu-buru. Memilah berarti memberikan ruang bagi cipta untuk mempertimbangkan, bagi rasa untuk merasakan, dan bagi budi untuk menilai.
Ukuran tingginya pengetahuan tidak semata-mata terletak pada keindahan kata-katanya atau banyaknya orang yang mempercayainya.
Yang lebih penting adalah buah kehidupan yang muncul ketika pengetahuan tersebut dijalankan.
Apabila suatu pengetahuan dapat berdampak cipta semakin jernih, rasa semakin tulus, karsa semakin luhur, dan laku semakin baik, maka pengetahuan tersebut menunjukkan keselarasan dengan kenyataan.
Sebaliknya, jika pengetahuan justru menumbuhkan kesombongan, kebencian, pertentangan, dan kerusakan, maka pengetahuan tersebut perlu ditimbang kembali hakikat dan manfaatnya.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Ngrumangsani Kawruh*
“Kawruh kang mung mlebu ing cipta durung jero; kawruh kang wis dirasakake bakal nyawiji karo urip.”
— Kawruh Utama —
4. Tatanan Merasakan Kawruh.
Pengetahuan tidak cukup hanya dipahami oleh pikiran. Karena itu, terdapat Tatanan Ngrumangsani Kawruh, yaitu merasakan pengetahuan dengan menjernihkan rasa.
Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dengan benar-benar memahami maknanya.
Pengetahuan yang hanya dihafalkan dapat berhenti hanya sebagai kata-kata belaka. Namun, pengetahuan yang dirasakan akan tumbuh menjadi pemahaman yang lebih dalam dan mulai mempengaruhi kehidupan.
Rasa yang dipenuhi kebencian, iri hati, kesombongan, atau keinginan yang tidak terkendali dapat mengaburkan makna pengetahuan. Karena itu, kejernihan rasa menjadi bagian penting dalam memahami suatu ajaran.
Tidak semua pengetahuan dapat dipahami dalam waktu singkat. Ada pengetahuan yang maknanya baru terlihat setelah dijalani dalam waktu yang cukup lama.
Kehidupan sehari-hari dengan demikian menjadi ruang untuk merasakan dan memahami dampak pengetahuan secara nyata.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Nguji Kawruh*
“Aja gampang percaya marang endahing tembung; timbangana kanthi nalar, rasakna kanthi wening, lan delengen wohing lampah.”
— Kawruh Utama —
5. Tatanan Menguji Kawruh.
Pengetahuan yang telah diterima dan dirasakan masih perlu diuji lagi melalui Tatanan Nguji Kawruh.
Pengujian dilakukan melalui tiga hal penting: nalar, rasa, dan buah perbuatan. Nalar digunakan untuk mempertimbangkan apakah pengetahuan tersebut masuk akal dan selaras dengan kehidupan. Rasa digunakan untuk melihat apakah pengetahuan tersebut membawa ketulusan, ketenteraman, dan kebaikan. Sementara itu, buah perbuatan menjadi bukti yang paling nyata.
Kata-kata yang indah dalam sebuah kawruh belum tentu menghasilkan buah kehidupan yang baik. Sebaliknya, suatu pengetahuan yang sederhana dapat menghasilkan ketenteraman, kerukunan, dan manfaat yang besar.
Karena itu, pengetahuan perlu dilihat dari perubahan hidup pribadi yang ditimbulkannya.
Apakah cipta menjadi lebih jernih?
Apakah rasa menjadi lebih tulus?
Apakah karsa menjadi lebih luhur?
Apakah laku menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari mawas diri dalam menguji pengetahuan atau kawruh yang telah diterima.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Nglampahi Kawruh*
“Kawruh tanpa lampah mung dadi tembung; kawruh kang dilakoni bakal dadi pepadhang tumrap gesang.”
— Kawruh Utama —
6. Tatanan Menjalankan Kawruh.
Pengetahuan yang telah dipahami dan diuji tidak seharusnya berhenti sebagai pemahaman. Tatanan Nglampahi Kawruh mengajarkan bahwa pengetahuan harus diwujudkan menjadi laku kehidupan.
Jika pengetahuan mengajarkan kejujuran, maka kejujuran harus tampak dalam perkataan dan perbuatan.
Jika mengajarkan kasih, maka seseorang perlu menunjukkan kepedulian kepada sesama.
Jika mengajarkan kerendahan hati, maka sikap tersebut harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Menjalankan pengetahuan tidak selalu membutuhkan tindakan yang besar. Menepati janji, menjaga perkataan, membantu sesama, merawat alam, melaksanakan kewajiban, dan bersikap baik merupakan bentuk nyata dari pengetahuan yang telah dihidupkan.
Dengan demikian, laku menjadi tempat pembuktian. Pengetahuan yang benar-benar hidup akan terlihat dari perubahan perilaku.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Ngluhuraken Kawruh*
“Saya luhur kawruh kang tinampa, saya gedhe jejibahan kanggo migunani; kawruh ora kanggo gumunggung, nanging kanggo kabecikan.”
— Kawruh Utama —
7. Tatanan Memuliakan Kawruh.
Tatanan Ngluhuraken Kawruh mengajarkan bahwa pengetahuan harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk meninggikan diri sendiri.
Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Memiliki pengetahuan bukan tanda bahwa seseorang lebih tinggi daripada orang lain. Pengetahuan merupakan sarana untuk memperbaiki kehidupan dan memberikan manfaat.
Orang yang memuliakan pengetahuan tidak sibuk memamerkan kepandaian. Ia lebih banyak menunjukkan pengetahuannya melalui laku yang jujur, tulus, sederhana, dan bermanfaat.
Pengetahuan yang digunakan untuk kesombongan dapat memecah hubungan dan menumbuhkan pertentangan. Sebaliknya, pengetahuan yang digunakan untuk kebaikan dapat menumbuhkan kasih, persaudaraan, dan keselarasan.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Nuduhake Kawruh*
“Kawruh kang dituduhake kanthi tulus ora bakal suda, nanging saya sumebar dadi pepadhang tumrap sapepadha.”
— Kawruh Utama —
8. Tatanan Membagikan Kawruh.
Pengetahuan yang baik tidak hanya disimpan untuk diri sendiri. Tatanan Nuduhake Kawruh mengajarkan pentingnya membagikan pengetahuan dengan tulus dan bertanggung jawab.
Membagikan pengetahuan bukan berarti menunjukkan bahwa diri sendiri lebih pandai. Tujuannya adalah memberikan manfaat dan membuka jalan agar orang lain juga dapat belajar.
Cara membagikan pengetahuan menjadi bagian yang penting. Pengetahuan sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan keadaan orang yang menerimanya.
Namun, membagikan pengetahuan juga berarti bersedia mendengarkan. Proses belajar bukan hubungan satu arah. Melalui percakapan, pengalaman, dan kehidupan bersama, setiap orang dapat saling menambah pemahaman.
Bahkan, laku yang baik dapat menjadi cara paling kuat untuk membagikan pengetahuan. Tindakan sering kali lebih mudah dipercaya daripada kata-kata yang indah tetapi tidak dijalankan.
✦ Buka Quote ......
*Tatananing Kawicaksanan*
“Kawicaksanan dudu akehing kawruh, nanging nalika kawruh wis dadi cipta kang bening, rasa kang tulus, lan karsa kang luhur.”
— Kawruh Utama —
9. Tatanan Kawicaksanan.
Puncak dari sembilan tatanan tersebut adalah Tatananing Kawicaksanan. Pada tahap ini, pengetahuan tidak lagi hanya menjadi sesuatu yang diketahui, tetapi telah menyatu dengan kehidupan.
Kawicaksanan tumbuh ketika cipta menjadi jernih, rasa menjadi tulus, dan karsa menjadi luhur. Dari ketiganya lahirlah laku yang selaras dengan kenyataan.
Orang yang bijaksana tidak diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasainya, tetapi dari bagaimana pengetahuan tersebut menghasilkan ketenteraman, kejujuran, ketulusan, dan manfaat bagi sesama.
Kebijaksanaan juga tidak berarti berhenti belajar. Justru semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia menyadari luasnya kenyataan. Karena itu, orang bijaksana tetap terbuka untuk belajar dari kehidupan.
Nawa Tatananing Kawruh sebagai Jalan Merubah Pola Kehidupan.
Kesembilan tatanan tersebut dapat dipandang sebagai satu rangkaian yang utuh:
menerima → mengupayakan → memilah → merasakan → menguji → menjalankan → memuliakan → membagikan → menjadi bijaksana.
Rangkaian ini menunjukkan bahwa pengetahuan sejati tidak berhenti pada cipta. Pengetahuan harus menyentuh rasa, membentuk karsa, lalu terlihat dalam laku.
Dengan demikian, Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa bukan sekadar tata cara memperoleh pengetahuan. Ia merupakan cara menempatkan pengetahuan agar benar-benar memiliki arti dalam kehidupan.
Pengetahuan diterima dengan keterbukaan, dicari dengan ketekunan, dipilah dengan kejernihan, dirasakan dengan ketulusan, diuji melalui kenyataan, dijalankan dalam laku, digunakan untuk kebaikan, dibagikan kepada sesama, dan akhirnya tumbuh menjadi kebijaksanaan.
Pada akhirnya, nilai sebuah kualitas pengetahuan tidak terutama ditentukan oleh banyaknya yang diketahui, melainkan oleh baiknya kehidupan yang lahir darinya.
Pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan yang mampu menerangi cipta, menjernihkan rasa, meluhurkan karsa, dan menghadirkan laku yang semakin selaras dengan kenyataan.
FAQ - Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa
Apa yang dimaksud Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa?
Nawa Tatananing Kawruh Uttamopadesa adalah sembilan tatanan dalam menerima, mencari, memilah, merasakan, menguji, menjalankan, memuliakan, membagikan pengetahuan, hingga mencapai kebijaksanaan.
Apa tujuan utama Nawa Tatananing Kawruh?
Tujuannya adalah menjadikan pengetahuan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi mampu mengubah cipta, rasa, karsa, dan laku menjadi lebih baik.
Mengapa pengetahuan harus diuji?
Karena tidak semua pengetahuan yang diterima pasti selaras dengan kenyataan. Pengujian dilakukan melalui nalar, rasa, dan terutama buah nyata dari penerapannya.
Apa hubungan pengetahuan dengan cipta, rasa, dan karsa?
Pengetahuan yang baik membantu menjernihkan cipta, membeningkan rasa, dan meluhurkan karsa. Ketiganya kemudian diwujudkan dalam laku kehidupan.
Mengapa kebijaksanaan menjadi tatanan terakhir?
Karena kebijaksanaan merupakan keadaan ketika pengetahuan telah dipahami, dirasakan, diuji, dan dijalankan sehingga menyatu dengan kehidupan serta menghasilkan laku yang baik.
Apakah Nawa Tatananing Kawruh hanya berkaitan dengan kegiatan belajar?
Tidak. Belajar merupakan bagian penting, tetapi sumber pengetahuan juga dapat ditemukan dalam alam, pekerjaan, hubungan dengan sesama, pengalaman, dan berbagai peristiwa kehidupan.
**Sumber Tulisan :
"SERAT NAWA TATANANING KAWRUH"
✦ Artikel-artikel pendalaman
Berikut beberapa artikel yang berkaitan dan dapat dibaca untuk memperluas pemahaman.
Komentar
Posting Komentar